Kamis, 07 Desember 2017

Lewat Kontrak, Baik Freelancer Maupun Klien Sama-Sama Diuntungkan

Sebagai pihak yang menawarkan barang atau jasa, kerapkali kita hanya mementingkan bagaimana produk atau jasa kita laku terjual.

Kalau produk atau jasa kita dibeli secara sekali putus, tentu hubungan penjual dan pembeli selesai di sana, tetapi bagaimana jika pembelian dilakukan secara bertahap (karena kuantitas yang belum mampu kita penuhi sekaligus atau kebutuhan pembeli yang berkala) atau jasa yang kita berikan sekaligus memberikan jaminan revisi jika klien belum puas?

Sebagai contoh Dimas (nama samaran), freelancer yang mendapat pesanan pembuatan video. Karena merasa segan dengan klien yang sudah membayarnya, ia  putuskan untuk melanjutkan hubungan bisnis diantara mereka tanpa kontrak.

Dimas juga setuju baru akan dibayar ketika video sudah diterima oleh klien secara memuaskan.
Alhasil, video sudah dikerjakan Dimas sesuai dengan kehendak klien, tetapi klien terus meminta revisi, revisi, dan revisi lagi. Karena ukuran “memuaskan” sangat subjektif. Proses pekerjaan selesai untuk 1 video itu saja memakan waktu hingga 6 bulan. Padahal Dimas harus fokus mengerjakan orderan lain.

Pangkal persoalan Dimas ada pada ketiadaan kontrak. Semestinya ketika memberikan jasa, Dimas juga menyodorkan Perjanjian Pemberian Jasa yang mampu melindungi Dimas dari hal-hal merugikan.

Apa sajakah itu? Melalui kontrak, Dimas bisa mengatur bahwa pembayaran dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap satu dilakukan bersamaan dengan tanggal penandatanganan kontrak. Tahap dua bersamaan dengan pada saat video Dimas tunjukan kepada klien. Dan tahap pelunasan pada saat video revisi diterima oleh klien.

Selain itu, lewat kontrak Dimas bisa mengatur batasan revisi. Revisi bisa diatur dengan maksimal jumlah atau dengan lewatnya batas waktu.

Dimas juga bisa memasukan pasal pelepasan tanggung jawab atas penggunaan video. Dan klien sendiri bisa mengatur soal pelepasan hak cipta video dari Dimas, demi kenyamanan dan jaminan penggunaan di kemudian hari.

Dengan kontrak yang jelas, baik freelancer maupun pengguna sama-sama punya pegangan dan batasan atas hubungan bisnis diantara mereka.

Jadi mau pilih sungkan di awal tetapi ruwet akhirnya, atau hadirkan kontrak di awal supaya semua terang benderang sejak semula?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Lebih Jauh Tentang Paten

Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No 14 Tahun 2001 tentang Paten menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Paten adalah “hak eksklusif yang diberi...